Home Teknologi Cerita Bisnis Ala Newbie

Cerita Bisnis Ala Newbie

41
0
bisnis sampingan

Melalui tulisan singkat ini, saya ingin berbagi tentang perjalanan saya ke Jogyakarta. Suasana kota Jogyakarta yang guyur gerimis. Entahlah, musim sekarang tidak jelas. Tiba di stasiun Tugu, saya langsung disambut seorang teman yang sejak satu jam lalu telah kontak. Untunglah kereta api di tahun 2017 ini tidak seperti kereta yang digambarkan Iwan Fals; selalu terlambat. Saya tiba tepat waktu, ketika itu sekitar pukul delapan malam

bisnis sampingan

Mandiri bukan berarti meniadakan keberadaan mitra atau rekan karena egois. Ingat, bisnis tidak boleh egois jika ingin berbuah manis. Kerjasama dalam kemandirian bisnis  itu yang harus kita budayakan

Kedatangan saya ke kota ‘seribu ide’ itu –begitu julukan saya untuk Jogya—sebenarnya menghadiri undangan diskusi –bukan tentang budaya—tetapi tentang bisnis, tepatnya motivasi dalam berbisnis undercover.co.id . Tetapi saya lebih senang menyebutnya ‘diskusi budaya bisnis ’. Menciptakan anak-anak muda yang tidak saja termotivasi untuk mandiri, tetapi juga memiliki budaya mandiri. Yup! Budaya mandiri, inilah kata kunci yang akan saya sampaikan nanti.

Tepat di selasar pintu keluar, teman saya, namanya Haninta, seorang mahasiswa perguruan tinggi ternama di kota itu, tengah menanti. Kami telah lama mengenal melalui jejaring sosial sehingga lebih mudah mengenali wajahnya.

“Malam, Bos!” sapanya sangat akrab. Saya hanya tersenyum. Kami berjabat tangan dan berjalan menuju sedan tua milik Haninta.

“Hujan terus Jogya?” tanyaklu basa-basi. Dia mengangkat kedua bahu menandakan hal yang tidak pasti.

“Pasti belum makan. Sebelum ke penginapan, kita mampir ke angkringan di barat stasiun. Tempatnya asyik. Makanannnya murah meriah,” kelakar Haninta.

“Oke!” jawabku spontan.

Tiba di angkringan. Wow! Asyik betul tempatnya. Jogya memang luar biasa dan orang-orangnya terbiasa berpikir out of the box (mmmh…Bandung juga lho, he). Setelah pesan kopi dan makanan kecil, Haninta sedikit mengulik apa yang akan saya sampaikan besok pagi di kampusnya. Memang kedatangan saya ke Jogyakarta atas undangan fakultas tempat Haninta kuliah.

“Mas, boleh tau, besok materinya apa sih?” tanyanya sambil mengambil camilan.

“Rahasia dong,” tukasnya enteng sambil tersenyum.

“Bocorannya sedikit saja,” Haninta memaksa. Saya geli juga. Tersenyum. Dan menyeruput kopi.

Gerimis di luar belum juga reda. Angkringan itu cukup ramai. Tetapi kebetulan kami memilih tenpat agak pojok hingga terbebas dari lalu lalang pengunjung.

“Mau tau?” tanyaku balik. Mendadak Haninta pasang raut serius.

“Saya hanya ingin menyampaikan bahwa dalam segala hal, kita harus mandiri, terutama dalam membangun sebuah usaha atau bisnis,” jelasku.

“Mandiri? Bukankah bisnis itu intinya kerjasama?” pertanyaannya kritis juga.

“Betul. Mandiri bukan berarti meniadakan keberadaan mitra atau rekan karena egois. Ingat bisnis tidak boleh egois jika ingin berbuah manis. Kerjasama dalam kemandirian itu yang harus kita budayakan,” jelasku agak panjang.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here